Kata orang, kita hidup di dunia ini harus punya mimpi. Dengan mimpi kita jadi tahu akan seperti apa hidup kita ke depan, dan apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita itu. Kalau ditanya mimpiku apa? Aku pengen jadi penulis dan bisa keliling Indonesia. Pengen punya usaha kuliner yang bahan-bahannya dari kebun sendiri. Yes! Pengusaha yang petani. Trus gelarmu nanti untuk apa, pit? Untuk dapetin golongan III/b di Instansi Pemerintahan. Sampai saat ini aku belum ada mimpi buat buka usaha terkait pendidikan yang aku enyam sekarang. Kayaknya aku lebih suka dan nyaman bekerja di suatu tempat yang memiliki sistem yang sudah jelas, bukan membuat sistem sendiri. Tapi aku akan senang hati menerima ajakkan menjadi pembicara di sebuah kelas atau pertemuan tertentu.
Ok itu soal karier. Trus untuk urusan keluarga gimana, pit?
Aku akan menikah saat usiaku masih berkepala dua. Tahun ini aku 26 tahun, dan paling tidak dalam tiga tahun ini Insya ALLAH statusku sudah berubah. Semoga Allah segera mempertemukanku dengan jodoh yang sudah dicatat saat masih dalam kandungan. Amiiinn.. Aku tidak mau pesta meriah saat pernikahanku nanti. Cukup sederhana saja, hanya syukuran setelah akad berlangsung. Semoga saja keluarga besar setuju dan mengerti. Semoga..
Aku masih mempunyai mimpi memiliki rumah di daerah pegunungan yang sejuk bersama keluarga kecilku nanti. Bercocok tanam dikebun sendiri, dan memasak hasilnya untuk makan sehari-hari. Dan tentu saja untuk usaha kulinerku juga nantinya. Aku juga ingin punya anak banyak, lebih dari tiga mungkin. Yang jelas kata dokterku, aku nggak boleh pakai KB hormon karena bisa memicu jaringan yang sudah diangkat 2008 lalu tumbuh lagi. Sepertinya menyenangkan jika rumah penuh canda tawa anak-anak, dan menghabiskan waktu luang bersama mereka melakukan hal-hal yang menyenangkan pula. Memasak, berkebun, bermain, bersenda gulau, jalan-jalan, bercerita tentang rencana-rencana masa depan, dan cita-cita mereka ketika dewasa. So nice! Penuh kebahagiaan dan keceriaan. Pasti papa senang kalau melihat cucunya tumbuh besar dan menjadi kebanggaan keluarga. Iya, papa akan tinggal bersamaku nanti. Semoga suamiku nanti setuju. Amiiinn...
Itulah mimpi-mimpiku. Cukup sederhana bukan? Semoga diamini Malaikat dan dikabulkan oleh Allah. Amiiiiiiiinn.. Kalau kamu, apa saja impianmu? :)
Coretan Pit
Curahan Rasa dan Pikir yang Tak Terungkap dalam Diri
2.2.12
Februari
Rasanya masih belum mau februari. Masih mau januari karena target tesis yang aku buat belum tercapai. Sampai sekarang aja aku masih berkutat di bab 1. Baru jumat besok bisa bimbingan dengan pembimbing yang super sibuk dan susah ditemui karena jadwalnya yang super padat. Mudah-mudahan hasilnya berbuah manis dan dapet pencerahan. Apapun itu kalau udah kita jalanin, suka nggak suka kita harus nyelesaiinnya sampai akhir. Semangat Pipit!!!
Harapanku di Februari semoga penuh kemudahan dan kelancaran disetiap usaha yang kujalani dan orang-orang yang aku sayangi. Mudah-mudahan selalu penuh dengan berkah dariNYA dan ditunjukkan jalan yang terbaik untuk hidup kita.
Satu hal yang nggak aku ingini untuk sekarang dan seterusnya, nggak mau terlalu Kepo! Terlalu ingin tahu tentang 'sesuatu' dan biarkan semuanya berjalan seiring waktu. Semua akan terjawab dengan sendirinya disaat kita justru tidak memikirkannya. Semuanya dibawa santai aja, pit. Nyantai kayak di Pantai. Kowawaaaaa......
Harapanku di Februari semoga penuh kemudahan dan kelancaran disetiap usaha yang kujalani dan orang-orang yang aku sayangi. Mudah-mudahan selalu penuh dengan berkah dariNYA dan ditunjukkan jalan yang terbaik untuk hidup kita.
Satu hal yang nggak aku ingini untuk sekarang dan seterusnya, nggak mau terlalu Kepo! Terlalu ingin tahu tentang 'sesuatu' dan biarkan semuanya berjalan seiring waktu. Semua akan terjawab dengan sendirinya disaat kita justru tidak memikirkannya. Semuanya dibawa santai aja, pit. Nyantai kayak di Pantai. Kowawaaaaa......
31.1.12
Panggung Sandiwara
Baca postingan teman tentang kerinduannya dengan dunia teater yang udah 2 tahun ditinggalkan bikin aku galau! Dulu waktu jaman sekolah aku paling suka kalau ada tugas bahasa Indonesia tentang drama. Aku masih inget banget drama komedi berjudul Maling Kundang yang aku dan temen-temen SMPku perankan. Cerita yang kocak perpaduan cerita-cerita nusantara, hafalan teks, latihan peran dan dancing, sampai akhirnya pertunjukkan. Puas rasanya kalau penampilan kita diberi sanjungan dan tepukkan tangan dari penonton. Yah! Itu prestasi akting pertamaku, sampai pernah mimpi mau terjun ke dunia akting sekalian tapi nggak dibolehin sama papa.
Pas kuliah aku juga sempet mau masuk ke teater kampus, tapi karena temen-temen deketku saat itu pada nggak mau jadinya aku nggak jadi daftar. Sempet ada pikiran nekat mau daftar sendirian tapi selalu nggak jadi, cuma bisa ngeliat ruangan UKMnya aja dari jauh.
Bagiku akting itu menyenangkan. Kita bisa berperan apa saja, menjadi siapa saja tanpa harus takut dikritik. Bagiku akting itu melatih diri, mengontrol ego mengikuti skenario yang sudah dibuat dan cerita yang tersedia. Bagiku akting itu masih sebuah keinginan. Sempat terbesit dalam diri mencari wadah teater untuk umum di luaran sana. Bagiku tidak susah mencari info tentang itu karena aku mengenal teman-teman di dunia teater. Tapi ya sudahlah. Peranku kini sudah nyata, dan aku bisa berakting natural di dunia nyataku, di panggung dunia penuh sandiwara ini..
Pas kuliah aku juga sempet mau masuk ke teater kampus, tapi karena temen-temen deketku saat itu pada nggak mau jadinya aku nggak jadi daftar. Sempet ada pikiran nekat mau daftar sendirian tapi selalu nggak jadi, cuma bisa ngeliat ruangan UKMnya aja dari jauh.
Bagiku akting itu menyenangkan. Kita bisa berperan apa saja, menjadi siapa saja tanpa harus takut dikritik. Bagiku akting itu melatih diri, mengontrol ego mengikuti skenario yang sudah dibuat dan cerita yang tersedia. Bagiku akting itu masih sebuah keinginan. Sempat terbesit dalam diri mencari wadah teater untuk umum di luaran sana. Bagiku tidak susah mencari info tentang itu karena aku mengenal teman-teman di dunia teater. Tapi ya sudahlah. Peranku kini sudah nyata, dan aku bisa berakting natural di dunia nyataku, di panggung dunia penuh sandiwara ini..
Yang ku Inginkan
Terkadang aku merindukan sosok yang memberikan perhatiannya kepadaku. Perhatian kecil dari hal-hal sepele seperti mengkomentari Private Message BBM yang aku buat, atau Display Picture yang aku ganti. Memulai chit chat di BBM atau sekedar menelepon menanyakan kabar dan bercerita blablablablabla. Mengharapkan sosok yang memuji apapun dari diriku, atau main gombal-gombalan yang sekarang lagi hits. Memberikan semangat untuk tesisku, bukan hanya mengharapkan aku cepat lulus saja.
Terkadang aku iri dengan pria yang berani terang-terangan menyatakan perasaannya kepada wanitanya, berbicara tentang arah yang akan dituju dalam hubungannya, atau berani melamar wanitanya dengan penuh keyakinan tanpa ragu. Pria yang percaya bahwa Allah-lah yang mengatur setiap rejeki hamba-hambaNYA, dan tidak akan membiarkan hambahNYA kekurangan.
Yah.. Semoga saja pria itu ada untukku. Segera. Amiiinn....
Terkadang aku iri dengan pria yang berani terang-terangan menyatakan perasaannya kepada wanitanya, berbicara tentang arah yang akan dituju dalam hubungannya, atau berani melamar wanitanya dengan penuh keyakinan tanpa ragu. Pria yang percaya bahwa Allah-lah yang mengatur setiap rejeki hamba-hambaNYA, dan tidak akan membiarkan hambahNYA kekurangan.
Yah.. Semoga saja pria itu ada untukku. Segera. Amiiinn....
Me now..
Aku sekarang masih sama seperti aku yang dulu-dulu. Masih tergantung dengan orang tua di usiaku yang sudah melebihi seperempat abad. Masih belum bisa menghasilkan apa-apa seperti teman-temanku yang lain yang sudah bekerja dan membahagiakan orangtuanya dengan uang jerih payah mereka sendiri. Aku masih seperti dulu, masih harus didorong dari belakang agar bisa maju ke depan. Masih harus sering disentil karena terlalu menikmati berada di area nyamanku. Masih suka mencari kesenangan, jalan-jalan, makan-makan tanpa memikirkan susahnya orangtua membanting tulang. Masih suka berdiam diri di kamar, sibuk dengan benda berlayar dan tombol-tombol tempat jemariku menari di atasnya, atau sibuk berbaring hingga tertidur membuang-buang waktu begitu saja. Overall, aku masih sama seperti aku yang dulu..
Tapi aku tersadar saat secara iseng melihat foto-foto di facebook sejak tahun 2008 dulu. Ya! Di sana aku sangat berbeda dari aku yang sekarang. Aku yang dulu terlalu menutup diri. Terlalu sungkan memulai pembicaraan dan membuka diri kepada orang lain. Aku yang dulu mengangap orang lain itu bukan siapa-siapa, walaupun mereka teman sebangkuku saat kuliah. Kapan aku merasa berubah? Mungkin sejak PKP (Praktek Kerja Profesi) yang mengharuskan aku berhadapan dengan orang asing bersama bermasalahannya. Mungkin karena sejak itu aku mulai mengenal teman-teman kuliahku dengan lebih dekat karena kami diharuskan tinggal dalam satu rumah selama dua bulanan lebih. Mengenal karakter masing-masing, belajar membuka diri dan bekerja sama. Yah betul kata dosenku. Setelah PKP setiap dari kami akan berubah menjadi lebih matang. Dan aku merasakan perubahan itu, setidaknya matang dalam bersikap dan berpikir.
Perjalanan hiduplah yang merubah orang lain menjadi individu baru. Pengalaman hidup bertemu dengan orang baru, melihat lingkungan baru, memahami kehidupan orang lain, dan ujian hidup dariNYA. Perubahan itu tidak hanya dirinya saja yang merasakan, tapi juga orang lain yang mengenal dirinya. Is it true huh? Mungkin aku masih pendiam, tapi aku bisa dengan mudah membuka diri jika ada orang yang memutar gagang pintunya. Dan aku masih belajar membagi masalahku dengan orang lain yang sejujurnya masih sulit aku lakukan.
Tapi aku tersadar saat secara iseng melihat foto-foto di facebook sejak tahun 2008 dulu. Ya! Di sana aku sangat berbeda dari aku yang sekarang. Aku yang dulu terlalu menutup diri. Terlalu sungkan memulai pembicaraan dan membuka diri kepada orang lain. Aku yang dulu mengangap orang lain itu bukan siapa-siapa, walaupun mereka teman sebangkuku saat kuliah. Kapan aku merasa berubah? Mungkin sejak PKP (Praktek Kerja Profesi) yang mengharuskan aku berhadapan dengan orang asing bersama bermasalahannya. Mungkin karena sejak itu aku mulai mengenal teman-teman kuliahku dengan lebih dekat karena kami diharuskan tinggal dalam satu rumah selama dua bulanan lebih. Mengenal karakter masing-masing, belajar membuka diri dan bekerja sama. Yah betul kata dosenku. Setelah PKP setiap dari kami akan berubah menjadi lebih matang. Dan aku merasakan perubahan itu, setidaknya matang dalam bersikap dan berpikir.
Perjalanan hiduplah yang merubah orang lain menjadi individu baru. Pengalaman hidup bertemu dengan orang baru, melihat lingkungan baru, memahami kehidupan orang lain, dan ujian hidup dariNYA. Perubahan itu tidak hanya dirinya saja yang merasakan, tapi juga orang lain yang mengenal dirinya. Is it true huh? Mungkin aku masih pendiam, tapi aku bisa dengan mudah membuka diri jika ada orang yang memutar gagang pintunya. Dan aku masih belajar membagi masalahku dengan orang lain yang sejujurnya masih sulit aku lakukan.
Langgan:
Entri (Atom)