Bagiku kamu menjengkelkan. Sangat menjengkelkan! Kadang kamu terkesan penuh perhatian, namun terlalu sering kamu bersikap mengacuhkan. Aku mengerti maksudmu tentang kita, tapi aku kurang suka dengan cara-caramu kepadaku. Mungkin ini karena jarak dan tuntutan pekerjaanmu yang kini sudah mulai berat. Aku tahu kamu workingholic, mengenyampingkan semua hal demi pekerjaan. Aku tahu setiap hari kamu harus hilir mudik dari satu tempat ke tempat yang lain demi mencapai target bulanan yang telah ditetapkan. Aku tahu kamu melakukannya bukan hanya kamu menghargai pekerjaan itu, tapi untuk membahagiakan keduaorangtuamu. Kamu rela sangat menghemat, menyisihkan pundi-pundimu untuk ibadah suci orangtuamu. Aku tahu itu sangat mulia. Sangat. Dan aku tahu bahwa aku mungkin dinomerkesekian dalam hidupmu, hingga aku merasa seperti orang asing dalam hidupmu.
Bagimu mungkin kita sudah jelas, tapi bagiku kita masih sangat abstrak. Seperti lukisan yang hanya kamu sendiri yang mengetahui artinya, bukan aku. Aku selalu bertanya tanpa bosan dan tanpa bosan pula kamu menjawab dengan kata-katamu yang belum sepenuhnya aku mengerti. Ya aku pura-pura tidak mengerti untuk memancing kalimatmu yang ingin aku dengar dan tunggu dari dulu, tapi sayangnya aku selalu gagal. Banyak yang menyarankanku move on untuk mendapatkan yang lebih jelas dan lebih pasti melangkah ke depan. Tidak jarang juga yang menawarkan diri mencarikan sosok pria untukku. Aku tidak menolak hal itu seperti yang kamu tahu. Aku melihat kesungguhan mereka dan belajar memahami mereka seperti aku belajar memahamimu.
0 komentar:
Poskan Komentar