Tempo lalu aku pernah cerita kalau sekarang aku tinggal dengan sepupuku dan keluarga kecilnya. Rumah ini sangat sederhana sekali. seperti rumah jogjo dengan jendela tinggi berteralis. Pintunya pun termasuk lebar. Daun pintunya bisa dilipat menjadi empat bagian. Bagitu masuk ke dalam rumah sudah disambut ruangan luas tetapi tidak terlalu luas (aku nggak ngerti hitung-hitungan luas jadi nggak ngerti berapa kali berapa ruangan tamu itu), dimana sebelah kanannya terdapat satu kamar tidur yang memanjang ke belakang. Sejajar dengan pintu depan terlihat pintu belakang yang langsung dihadang oleh tembok beton. Keluar dari pintu belakang itu sebelah kirinya adalah dapur yang sangat sempit, dan sebelah kanannya adalah kamar mandi. Kamarku? 3x4 ruangan tambahan yang terletak di ruang tamu. Tambahan? Iya. Tukang-tukang yang diupah papaku yang membuat kamar tambahan dari tripleks dan lantai dilapisi plastic bermotif biar tidak dingin. Temboknya cukup tinggi, tapi tidak sampai ke langit-langit rumah yang tidak memiliki plafon. Ya. Langsung terlihat genting-genting yang dihiasi sarang laba-laba bergelayutan jika berbaring di kasur dan melihat ke atas.
Jika hujan sangat lebat, aku akan siap siaga mengelap lantai dan menyapunya karena kotoran-kotoran dari genting turun ke bawah. Nggak banyak kok, mereka turunnya setitik-setitik jadi nggak sampai bocor. Tapi kadang aku menjumpai kasurku basah berbentuk pulau karena titik-titik itu, itu juga kalau hujannya sangat deras disertai angin. Makanya nggak heran juga kalau barang-barang di kamarku cepat banget kotor padahal baru dibersihin, sampai akhirnya males buat dibersihin. Cukup terbayangkan bagaimana kamarku sekarang?
Tiap kali ada temenku yang aku ajak ke rumah ini dan masuk ke kamarku, mereka terdiam sambil melihat sekeliling kamarku yang penuh dengan barang-barang. Mungkin mereka sedikit heran, “bisa ya seorang Ajeng tidur di tempat ini? Kenapa nggak milih ngekost aja yang pastinya jauh lebih nyaman dibanding kamarnya saat ini.” Tapi aku pura-pura nggak tau dengan apa yang mereka pikirin, karena aku emang nggak tau apa yang mereka pikirin. Aku nggak punya kelebihan membaca pikiran orang, hanya menebak dari ekspresi wajahnya aja. Tapi aku nggak masalah dengan semua ini. Aku sangat menikmati berada di sini. Tidurku masih sangat nyenyak, bahkan semakin nyenyak. Aku bisa langsung merasakan dinginnya udara malam dan pagi yang mungkin tidak akan bisa aku rasakan bila tidur dengan dinding bertembok beton. Aku bisa mendengar suara adzan dengan sangat jelas tanpa harus menajamkan telinga jika aku tidur di kamar yang rapat. Aku juga bisa mendengar ramainya suara ponakanku saat sedang bergurau dan sibuknya suasana pagi di rumah ini. Dan itu semua nggak bakal bisa aku dapetin kalau aku tinggal di kos. Iya kan?
Paling nggak sekarang teman-temanku bisa percaya kalau aku bukanlah seperti gadis yang mereka kira. Gadis yang selalu dimanja dan tidak bisa hidup sederhana. Gadis yang selalu dilayani dan dibuai dengan fasilitas masa kini. Mereka semua salah. Aku adalah gadis sederhana dan mandiri. Gadis apa adanya yang bisa menikmati hidup dengan kondisi yang apa adanya juga. Aku tidak mengeluh kalaupun ditempati di kamar yang belum jadi dengan jendela yang hanya ditutupi dengan tambalan tripleks, berataskan tanah, tanpa plafon, dan bersampingan dengan kandang kambing seperti jaman KKN-ku dulu (Kuliah Kerja Nyata). Menurutku, kapan lagi bisa tidur seperti itu jika tidak saat itu? Itu adalah pengalaman yang menyenangkan bagi unitku, walaupun dibicarakan oleh unit lain kalau kamar kami bersebelahan dengan kandang kambing. Itu pengalaman yang tidak bisa mereka rasakan kan? Hanya kami yang merasakannya, tapi sejujurnya tidak ada rasa apa-apa. Tho tembok kamarnya bata yang belum diplester, dan tidak bersebelahan juga dengan kandang, masih ada beberapa meter dari tembok kamar kami. Baunya pun nggak pernah kami cium lho walaupun jaraknya tidak begitu jauh. Dan masa-masa itu bener-bener masa yang menyenangkan dan tidak pernah terlupakan bagiku dan teman-teman satu unitku.
Yah.. itulah kondisiku saat ini. So, Jangan pernah menilai seseorang jika kita belum mengenal betul bagaimana orang lain itu di balik sisi lainnya yang belum kita ketahui.. ;)
0 komentar:
Poskan Komentar